Tampilkan postingan dengan label Divisi Apresiasi Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Divisi Apresiasi Sastra. Tampilkan semua postingan
22 Februari 2017 0 komentar

CERPEN: "High General Belias Gyellin"

High General Belias Gyellin
(Oleh: Fauzul Afa)

Aku tidak pernah mengerti apa yang mereka sebut, aku hanya berjalan dan terus berjalan sampai pada titik dimana waktulah yang akan menghentikanku. Namaku adalah Belias Gyellin dan aku mempunyai kisah hidup yang tidak akan pernah kalian inginkan.

Kita semua hidup dan kita semua mati. Jika dirimu adalah kesatria, kau akan membuat pilihan sebelum kau bertarung. Mereka memanggilku Dragonbane, bukan karena aku mempunyai kekuatan seperti Naga, melainkan karena pedangku yang meminum darah dari musuh-musuh yang tidak terkalahkan.

Namaku adalah Belias Gyellin The Dragonbane, dan ini adalah ceritaku. sebelum aku menjadi kesatria, sebelum aku menjadi komandan perang, sebelum aku menjadi jendral tertinggi. Aku terlahir diluar tembok besar Kerajaan Xelduin, hidup dengan peraturan yang diciptakan oleh Naga dan Dewa, dimana kau akan melihat kematianmu sendiri apabila kau bukanlah orang yang kuat. Aku belajar bertarung menggunakan pedang dan perisai tanpa mengenal kata ampun, itu semua bermula karena naluri untuk bertahan hidup. Aku berbeda, mungkin dengan cara yang tidak baik maupun baik, selama aku masih mencari “Siapa diriku?” aku tidak akan mengenal kata ampun.

Tidak ada keberanian tanpa rasa takut, tidak ada hidup tanpa kematian, tidak ada legenda tanpa kesatria. Aku sudah banyak melihat kematian, terlalu banyak sehingga kau hanya bisa memikirkan betapa menyesalnya kau hidup didunia ini. Saat kau melihat kebelakang kau hanya akan menemukan sisi gelapmu. Aku pernah melihat seorang pemuda yang bersemangat ingin menjadi kesatria, aku bertanya pada pemuda itu “Apa kau tidak takut untuk mati?” pemuda itu menjawab “Tidak sama sekali!” setelah kami berperang melawan Naga, aku melihat perut pemuda itu tertusuk sebuah pedang dan isi perut nyapun berhamburan. Yah, pemuda itu menghadapi kematian nya. Kami berbeda, kami mati dengan penuh kebanggaan, kami terlahir sebagai kesatria, yang artinya, kami terlahir untuk kematian.

Apa yang takdir berikan padaku bukanlah suatu kebruntungan, aku hanya berdiri diatas tengkorak para musuhku, siapapun yang berani menentangku, maka aku siap menghunuskan pedangku sebelum ia berlutut meminta ampun. Jika kau bertanya “Adakah sedikit rasa belas kasih pada dirimu?” maka aku akan menjawab “Ada” namun itu tidak akan berguna jika kau terancam, aku hidup didunia yang penuh dengan kekejaman Naga dan para Dewa, aku banyak melihat keputusasaan, ketidakadilan dan kematian dari orang-orang yang hanya menginginkan kehidupan. Itu semua cukup untuk menghilangkan rasa belas kasih, kau akan membenci para Dewa dan Naga serta para manusia yang mengikuti mereka. Rasa bencimu akan menjadi kekuatan apabila kau sanggup menggunakan kekuatan itu, sampai titik dimana kau mengingiinkan peperangan melawan mereka.

Apa arti dari sebuah peperangan? Sampai saat ini, aku pun masih belum mengerti. Saat kau berdiri di garis depan, yang kau lihat hanyalah kematian dan keputusasaan. Tetapi, jika kau memenangkannya, maka kau akan mendengar sorak-sorai orang-orang yang menyebut namamu di kota, kau akan menjadi pahlawan mereka. Saat namaku diteriakan di seluruh penjuru kota, yang aku rasakan hanyalah kesombongan, semakin aku mendengarnya maka semakin aku haus akan kekuatan. Disaat itu, aku hanya ada untuk perang. Itulah yang membuat aku tenggelam kedasar kegelapan, saat kau masuk kedalamnya, kau tidak akan melihat keramaian, yang kau lihat hanyalah kesepian, gelap, tanpa cahaya sedikitpun.


Aku masih mengingat hari itu, hari dimana aku melawan Hydra, Naga yang ditakuti oleh banyak kesatria, Naga dengan kekuatan membinasakan, Naga dengan kepala sembilan. Saat aku bertatap muka dengan Hydra, aku siap menerima kematianku. Aku benturkan pedangku ke perisai dengan berteriak “Aku sang Dragonbane, Lawan aku makhluk terkutuk!” Aku mulai berlari kearahnya, Hydra menyemburkan nafas apinya ke arahku namun dengan perisai Aegis yang setia padaku, aku sanggup menerobos semburan api itu tanpa rasa gentar. Aku melompat dan mulai kuhunuskan pedangku kearah kepala Hydra, namun ia sanggup menghindari nya dan menyerangku dengan cakar nya yang dilumuri magma, sehingga aku terpental dan punggungku menghantam karang dengan keras. Aku bangkit, dan aku mulai merapalkan mantra sihirku yang kuat “Sonidos” es pun muncul dengan sangat besar seperti paku-paku yang sengaja di tancapkan ke bumi. Namun lagi-lagi Hydra sanggup menahan sihirku, ia menyeburkan nafas api nya kearah sihir es ku dan melelehkannya. Hydra terbang menyerangku, serangannya mampu aku hindari. Karena aku melompat ke arah belakangnya, namun tidak disangka, ekornya menghibas kearahku dan menghancurkan jirahku. Aku terpental sangat jauh dari Hydra dan terbaring tak berdaya, aku tidak bisa menggerakan seluruh badanku dan mulai kehabisan banyak darah. Pandanganku perlahan mulai memudar “Haha sepertinya aku akan mati disini makhluk terkutuk” aku siap dengan kematianku. mataku mengarahkanku ke langit, aku tidak pernah melihat langit sangat indah sebelumnya. Suara kaki Hydra mulai terdengar melangkah ke arahku “Kau hanyalah manusia lemah” ucapnya dengan memandangku sangat hina. 




~Komunitas JaWaRa~
4 Januari 2017 0 komentar

PUISI "BANGKITKU"

BANGKITKU
(Oleh: Fauzul Afa)



Rasa sakit yang terus menghampiri ini
Rasa hancur yang tak pernah lekang ini
Membuatku semakin tersadar..
Ada banyak keindahan yang aku lewatkan disana

Matahari sudah siap menyambutku
Matahari sudah siap menyapaku
Matahari sudah siap menghangatkanku
Keluarlah, wahai perihnya cinta

Dunia berbisik padaku
Entah dalam keperihan, kesedihan, keterpurukan
Dunia berbisik, pandanglah aku
Percayalah padaku, aku akan selalu berada di jiwamu

Airmata yang menetes itu...
Jatuh kerelung hatiku, seakan memberitahuku
Bahwa ia lelah, bosan, jenuh dengan semua perih ini
Bangkitlah, terjanglah dan lumatlah perih itu

Kupejam mataku yang buta cinta
Dimana anak darah menetes darinya, lalu mengalir
Mengalir kengarai kejenuhan, kemudian pergi
Seakan, mataku ingin mengganti nya dengan kebahagiaan

Langit yang cerah dan indah
Pohon-pohon dan rumput yang bergoyang
Kicauan burung yang merdu
Bernyanyi menyambutku dari tenggelam nya kepedihan


Aku pandangi lembaranku yang jatuh
Tak sadar, dilembaran itu masih terdapat banyak warna
Masih banyak yang belumku tulis
Lembaran baruku, akan kuisi dengan tinta kedamaian




~Komunitas JaWaRa~
30 Desember 2016 0 komentar

Puisi "AYAH"


AYAH
 (Oleh: Fauzul Afa)



Ayah..
Betapa mulianya hati mu
Kau korbankan segalanya demi anakmu
Kau banting tulang hanya untuk anakmu

Disetiap tetes keringatmu
Disetiap derai lelah nafasmu
Disetiap doamu yang penuh dengan harapan
Kau melakukan nya demi aku, tanpa pamrih..

Ayah..
Kau hadir disaat aku terjatuh
Nasihatmu bagaikan siraman semangat bagiku
Kau tak pernah bosan mengngingatkan ku

Saat ayah tertidur
Kutemukan seberkah kedamaian disana
Tepatnya di wajahmu yang senja itu
Wajahmu yang mulai kerut, wajah yang selalu kuingat

Ayah..
Kau adalah lelaki berhati maaf

Aku yang selalu menyusahkan, tak tau diri, egois
Masih engkau suguhkan maaf padaku

Anakmu ini selalu saja membuatmu lelah..
Maafkan aku yang hanya bisa meminta uang
Tanpa memikirkan betapa susahnya mecari uang
Tanpa memikirkan keringat yang keluar dari hasil kerjamu

Anakmu ini selalu saja membuatkanmu masalah baru
Tapi, engkau masih bisa sabar
Dengan rasa bangga, kau ucapkan
Dia anaku, anak yang aku sayangi dan kucintai


Ayah..
Kutulis puisi ini karena aku teramat merindukanmu
Hatiku menjerit tersiksa lantaran rindu ini
Puisi ini kutulis dan kuselip sepotong rindu untukmu ayah
27 Maret 2016 0 komentar

Puisi "Cinta Dan Jemari". Karya : Lia Awalia

CINTA DAN JEMARI 

Cinta yang kan mengikat jemari
Jemari yang akan menguatkan cinta
Jemari yang kan mengeratkan cinta
Cinta yang kan menyatukan jemari
Genggaman jemari yang menjadikan cinta selalu bersemi
Itulah keduanya.....

                                          Lia Awaliyah
0 komentar

Puisi "LELAHKU". Karya : Fauzul Afa

LELAHKU

Kau yang tak pernah mengerti artinya cinta dan kesetiaan
Semua pengorbananku kau anggap tak berguna
Diam dan membisu, haruskah seperti itu?
Menjadikanku seperti batu yang tenggelam kedasar lautan

                            Haruskah aku berlari
                            Untukmu yang tidak ingin peduli sama sekali
                            Haruskah aku mati
                            Untuk rasa sakit yang tak tertahankan ini

Lelahku sudah mencapai puncak..
Saat aku mulai melangkah
Yang aku rasa hanya tumpahan kepedihan
Itu membuatku takut, takut akan kehilangan sesuatu

                            Airmatapun seperti membisu tak berguna
                            Seakan tuli mendengar tangisku
                            Seakan tak peduli seberapa menderita nya diriku
                            Semua hanya ada duka dan derita

Tidakkah engkau tau..
Aku sekarat karena menanam cinta untukmu
Kaupun memberikanku cinta
Cinta yang akan meracuniku hingga lenyap

                            Aku lelah dengan tingkahmu
                            Dengan cintamu yang membunuhku secara perlahan
                            Dengan rasa yang kusimpan hingga membatu
                            Ingin rasanya kuakhiri ini semua

Ini adalah pilihanku untuk mengakhiri
Ini adalah hal yang wajib kamu tahu
Ini bukan rencanaku
Namun ini jalan hidupku

                             Pergilah, bawa semua rasa egomu dariku
                             Ini adalah jalanku untuk mengakhiri
                             Jalan yang terbaik dari Tuhan
                             Cinta, sampaikan penyesalanku karena pernah mencintai nya
                                        -FAUZUL AFA
10 Maret 2016 0 komentar

Cerpen : Sikecil Aisah (Oleh: Fauzul Afa)


Sikecil Aisah
(Oleh: Fauzul Afa)

       Aku terlahir kedunia sebagai anak yang berkecukupan dan selalu bersyukur atas apa yang tuhan berikan padaku, akan tetapi ada banyak hal yang masih belum ku rasakan, maklum saja begitu, karena aku ini masih muda dan minim akan pengalaman diluar sana. Aku ini seorang mahasiswa yang mengambil jurusan ilmu komunikasi disalah satu Universitas ternama yang ada di Indonesia. Aku terbilang seorang pria yang beruntung memiliki keluarga yang mencukupi sehingga aku mampu memasuki dunia pendidikan yang lebih baik. Tidak ada yang bisa dibanggakan, namun tidak berarti tujuanku tidak ingin membanggakan, bagiku membanggakan Orangtua adalah prioritas utama, mereka juga salah satu semangat yang ku miliki saat aku berada pada titik kesedihan yang mendalam. Bukan ciri khasku berbagi semua pilu. Aku bahkan lebih suka memendam dibanding mengumbar. Pernah, ingin sekali ku berikan kalung untuk ibu sebagai hadiah untuk ulang tahunnya. Aku pun mencoba menabung selama satu bulan untuk memenuhi keinginan tersebut. Maka mengurangi pengeluaran adalah jalan terbaik untuk menambah pemasukan. Bahkan perlu mati-matian berjuang menahan lapar demi tujuan itu. Aku memang begitu jika sudah menginginkan sesuatu. Terus terang, aku menderita, tapi derita itu hanya sementara membayangkan sesosok Ibu yang luar biasa sabar menghadapi tingkah anak nya yang menyusahkan. Tetapi itu dulu, saat perusahaan ayahku sedang proses menuju kesuksesan
      Seringkali aku melihat orang yang berada dibawah dan diatas, tapi yang membuatku sangat tertarik adalah orang-orang yang berada dibawahku. Bagiku mereka adalah sesosok yang ingin berjuang melawan keras nya hidup, walaupun mereka sendiri masih mencoba, dan itu memerlukan proses yang amat panjang. Terlebih lagi mereka dari keluarga yang serba kekurangan, Pernah Suatu ketika saat pulang kuliah aku melihat seorang anak perempuan yang menjual gorengan keliling mencari pembeli, Dulu setiap melihat anak-anak yang menjual seperti itu pikiranku selalu saja digerogoti oleh sebuah pertanyaan umum. Mengapa mereka melakukan hal itu? Bukankah diumur yang muda seharus nya mereka menimba ilmu?
      Aku memutuskan untuk memanggilnya dengan niat ingin membeli gorengan nya. Tapi sungguh itu bukanlah niat yang sebenarnya. Sebagai mahasiswa yang mengambil jurusan komunikasi, aku diajarkan bagaimana cara berkomunikasi dengan baik terhadap khalayak banyak orang maupun terhadap individu, dan dengan rasa penasaran yang membesar pada hatiku ini, kumulai dengan melempar tanya terhadap anak yang menjual gorengan keliling itu..
“Kesini dik, berapa harga bakwannya?” aku mulai bertanya. “Seribu rupiah Kak.” dia menjawab sebagaimana mestinya percakapan antara penjual dan pembeli. Aku pun mengambilnya dan meminta agar dia bersedia duduk menemaniku menghabiskan bakwan yang kuambil dari nampan nya. Di sinilah tujuanku, sengaja membuatnya dekat agar aku bisa memberikan pertanyaan yang ingin sekali ku temukan jawabannya, Aku lanjutkan dengan bertanya “Sudah makan?” tanyaku dengan penasaran
“Belum Kak, uangku belum terkumpul jadi aku masih belum dapat makan” jawab nya dengan muka lesuh karena kelelahan membawa nampan yang berisi gorengan terlebih lagi ini sudah sore membayangkan sudah dari jam brapa anak ini belum makan, dan kulihat nampan itu memang masih berisi banyak dengan gorengan. Dengan rasa iba, akupun menyuruh nya untuk menunggu “Tunggu disini yah, jangan kemana-mana kakak mau kewarung nasi itu, nanti kalau kabur kakak gak bisa bayar bakwan nya loh nanti bayar nya kesiapa?” pintaku dengan sedikit nada humor, ia pun mengiyakan ku dan melempar senyum nya padaku. Kubeli sebungkus nasi dengan memilih ayam bakar sebagai lauk nya dan tidak lupa pula dengan minum nya, setelah pesanan nasiku selesai dibuat, aku kembali pada anak itu dan menyuruh nya untuk memakan nasi yang kubeli tadi “belum makan kan? Nih, tadi kakak beli nasi di rumah makan padang, kamukan belum makan jadi kakak beliin biar semangat angkat nampan nya” aku sodorkan nasi itu pada nya, pada awal nya dia menolak karena rasa tidak enak tapi perutnya berkata lain dan pada akhirnya dia memakan nya juga dengan lahap, melihat pemandangan itu membuatku bahagia, terlebih lagi anak itu memakan nya sampai tak ada nasi yang tersisa.
       Anak itupun menghabisi nasi yang kubeli, dan ia semakin terasa dekat denganku. Itu membuatku senang. Aku masih belum mengetahui siapa nama adik ini, dengan rasa penasaran kutanya nama nya “Nama adik siapa?” tanyaku terhadap adik ini. “Namaku Aisah kak” jawab nya dengan senyuman hangat “Aisah masih sekolah?” tanyaku dengan penasaran “Sudah tidak lagi kak.” ekspresinya seakan tidak suka dengan pertanyaan itu “Terus, kenapa harus putus sekolah?” aku belum puas dengan jawaban itu. “Sebelumnya sih aku sekolah kak, sekarang jika aku masih sekolah harus nya aku sudah kelas 4 SD..” Dia mulai terbuka padaku. “Terus, kenapa harus putus sekolah?”, “Keluargaku tak mampu untuk menyekolahkan ku kak, ayahku sudah meninggal 3 tahun lalu jadi tidak ada orang yang membanting tulang sekarang, Akhirnya aku menjual gorengan untuk hidup berdua bersama ibu” jawab nya dengan nada yang sedih seakan inilah takdir yang diberi tuhan untuk nya. “Ibu gak mau bantu kamu jualan gorengan?” tanyaku penasaran, “Ibu lagi sakit sakitan kak ibu gak boleh kecapean, nanti kalau capek penyakit nya malah tambah parah kak, Aisah sayang sama ibu, jadi gak tega kalau liat ibu sakit sakitan kak” Kali ini dia benar-benar tidak ragu bercerita.
      Seketika hatiku tersentak mengetahui kisah itu. Aku bahkan sadar dalam sekejap, aku bukan orang yang paling menderita. Di luar sana, sangat banyak yang ingin bersekolah tapi mereka terbatas akan biaya. Aku bersyukur dengan semua yang ku miliki saat ini
Keluarga, teman, cinta, dan kasih sayang dari mereka adalah sebuah anugerah yang harus ku jaga sampai akhir hayat. Perbincanganku dengan Aisah membuatku mendapat pengalaman yang amat luar biasa berharga
      Tak terasa waktu sudah menunjukan jam 15.17 sore, Aisahpun ingin pergi melanjutkan dagangan nya yang masih banyak, melihat itu membuatku tak tega memandang wajah Aisah yang lelah karena berdagang sejak pagi tadi dan masih banyak gorengan yang belum terjual. Dengan inisiatifku, aku menyuruh nya untuk membungkus semua gorengan nya “Aisah, gorengan nya bungkus aja yah semua nya, kakak mau beli semua gorengan Aisah” pintaku pada Aisah, “Beneran kak?” muka nya kembali cerah dan senang mendengar pernyataanku yang ingin membeli semua gorengan nya. “Beneran dong” jawabku dengan melempar senyuman hangat padanya. Langsung saja Aisah mengambil plastik besar dan membungkus semua gorengan nya, dan sekrang nampan yang terlihat penuh menjadi kosong tak berisi “Ini kak, semua nya jadi Rp.24.000 kak” ia menyodorkan plastik yang penuh gorengan itu padaku.
      Namun bukan uang Rp.24.000 yang aku berikan, dengan sungguh hati yang ikhlas kuberikan uang Rp.300.000 padanya dan kuberikan kartu namaku. “Ini kakak mau bagi rezeki sama Aisah, ini kartu nama kakak kalau Aisah minta tolong, Aisah tinggal hubungin no yang ada di kartu nama itu aja yah” Dengan tangan gemetar, Aisahpun mengambil uang dan kartu namaku, kulihat matanya yang mengalir air mata kebahagiaan. Aku peluk Aisah ia pun menyambut pelukan ku, dan aku katakan padanya “Aisah anak baik, rawat ibu Aisah baik-baik yah, terus jangan lupa buat hubungin kakak”
“Terimakasih kak, terimakasih..”
24 Februari 2016 0 komentar

Kisah cinta dalam novel INGINKU, Keping Cerita Bawakan Cinta. Karya : Kartika Shania Ningrum

Kisah cinta dalam novel INGINKU, Keping Cerita Bawakan Cinta



 Judul    : Inginku; Keping Cerita Bawakan Cinta     

Penulis      : Sienta Sasika Novel

Ukuran    : 13 x 19 cm

Tebal        : 262 hlm

Penerbit   : Bukuné

ISBN         : 602-220-077-6

Harga       : Rp38.000,-

Sinopsis

Rindu ini masih saja untukmu meski waktu telah lama berlalu.Kisah kita seakan jadi mantra dalam hari-hari yang terkadang terasa memilukan hati.Dan jauh di sudut hati,aku masih menanti,tak bisa kumungkiri.Namun, harapan hanya bagai tetes air di atas embun, selalu terjatuh.Jangan bawakan lagi aku cinta,tak ada sisa harapan yang bisa kutawarkan kepadamu,bahkan hingga ujung hari terakhirku....Dan kau, mengapa masih saja berdiri di sisiku? Benarkah esok masih ada sinar matahari yang mampu menghangatkan cinta kita?

     Inginku, adalah persembahan novel dari penulis muda Sinta Sasika Novel, S.Si., Baliau lahir di Bandung, 17 April 1987. Ia menyelesaikan S1 biologi di Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran pada Mei 2009 di bidang molekuler medis. Pada 2006-2009 menjadi asisten dosen di Biologi UNPAD, lalu bekerja di Instalasi Patologi Klinik, Rumah Sakit Kanker Dharmais sebagai Biolog dan Research Assistant di bidang diagnostik molekuler. Tahun 2011 melanjutkan studi S2-nya di Bioteknologi ITB dan bekerja sebagai Research Assistant di UPK RSHS UNPAD. Seorang pecinta anime, manga, dan dorama Jepang.



     Inginku merupakan kisah cinta masa SMA Radhitya Brahmantyo atau Radhit dengan Azzalea Daffanty atau biasa dipanggil Lea yang semenjak kelulusan SMA tidak pernah bertemu kembali dengan Lea, kegelisahan Radhit yang sudah lama tidak bertemu dengan Lea karena sudah lama tidak pergi ke Bandung karena kecelakaan kereta api yg menewaskan ayah dan ibunya. Itulah sebabnya Lea tidak ingin pergi ke Bandung,namun pada akhirnya Lea pindah ke Bandung dengan harapan untuk membuka lembaran baru dan tidak ingin mengingat kenangan masa lalu yang sangat menyakitkannya. Sampai pada akhirnya Ia diterima sebagai perawat di salah satu Rumah Sakit yang dikenal mempunyai reputasi baik di Bandung dan ternyata Ia bertemu dengan Radhit yang menjadi dokter spesialis disana. Radhit yang telah bertahun - tahun tidak bertemu dengan Lea pun sangat terjekut mengetahui bahwa Lea saat ini bekerja di Rumah Sakit yang sama dengannya, Radhit masih mencintai Lea. Karena hanya Lea yang mengerti dirinya seperti apa. Namun sayang Radhit sudah memiliki tunangan yang ternyata merupakan anak pemilik Rumah Sakit tersebut. Vhera Adilla merupakan tunangan Radhit dan akan segera melangsungkan pernikahan, namun Radhit tidak pernah mencintai Vhera, yang ada di hatinya hanyalah Lea. Sampai pada akhirnya Lea di vonis terkena kanker yang disebabkan oleh virus HPV dan mengharuskan pengangkatan rahim Lea yang artinya Lea tidak akan memiliki keturunan selamanya. Vhera sudah mengetahui bahwa Radhit mencintai Lea namun Lea tidak ingin menjadi orang ketiga diantara mereka, namun Radhit telah memutuskan bahwa Ia akan memilih Lea walaupun Ia tau resikonya tidak akan memiliki keturunan. Disaat Lea putus harapan Radhit datang untuk memberikan harapan baru, Ia tidak ingin kehilngan Lea untuk kedua kalinya, sudah cukup menyakitkan baginya melihat Lea merasakan penderitan bertubi-tubi. Kehilangan orang tuanya, kehilangan anaknya, kehilangan suaminya, sekarang Ia akan kehilangan rahimnya dan Vhera menyadari semua itu. Betapa serakahnya, apapun yg Vhera inginkan selalu terkabu dan tidak pernah merasakan arti kehilangan. Akhirnya Vhera merelakan Radhit dengan Lea dan Ia melanjutkan studinya di Jerman, setelah 2 tahun kemudian Radhit dan Lea mengangkat seorang anak bernama Dimas dan Vhera pun sudah memiliki anak hasil pernikahannya dengan Jascha Stumpf laki laki keturunan Jerman yang juga sedang mengambil kuliah dengan jurusan yang sama dengan Vhera.

Novel ini di persembahkan kepada perempuan di Indonesia mengenai kanker serviks, di dalam isi novel disebutkan mengenai gejala awal kanker serviks. Ini sangat penting agar perempuan Indonesia dapat mendeteksi dini gejala awal kanker ini

Mengapa kita harus memiliki buku ini?

Dalam buku ini bukan saja mengenai cinta semata, namun sekaligus memberikan pelajaran mengenai kanker serviks terutama bagi perempuan yang sudah pernah melakukan aktivitas seksual agar memeriksakan diri ke dokter apabila timbul gejala-gejalanya. Namun bagi perempuan yang belum pernah melakukan aktivitas seksual dapat dilakukan penyuntikan vaksin untuk menghindari timbulnya virus-virus penyebab kanker serviks. Buku ini sangat menarik karna bisa menyajikan suatu materi yang bermanfaat sekaligus memberikan suatu cerita yang tidak biasa. Dimana laki-laki bisa menerima perempuan yang padahal Ia sudah tahu bahwa perempuan tersebut tidak akan pernah bisa mendapatkan keturunan karena pengangkatan rahimnya, disinilah letak kesetian laki-laki yang sesungguhnya.

     Di dalam suatu buku pastilah ada kelemahan dan kelebihannya, termasuk di dalam buku ini terdapat beberapa kelemahan dan kelebihannya. dari sudut kelemahannya buku ini banyak menyebutkan banyak istilah-istilah kedokteran yang tidak dimengerti terutama oleh orang awam, penggunaan istilah-istilah ini cukup sering di gunakan dalam beberapa percakapan. Ada baiknya penggunaan istilah kedokteran sedikit di kurangi agar para pembaca tidak terlalu bingung ketika membacanya.

Dari sudut kelebihannya buku ini menjelaskan mengenai apa itu kanker serviks, apa saja gejalanya, lalu apa saja resiko yang akan terjadi, bagaimana penangannya. Ini sudah cukup bermanfaat bagi pembaca yang belum mengetahui mengenai kanker serviks. Apalagi diangkat menjadi sebuah novel yang minat pembacanya sebagian besar para remaja usia sekolah maupun kuliah.



     Demikianlah resensi mengenai buku ini, semoga bermanfaat bagi kawan sekalian yang bingung ingin membeli buku apa, semua tergantung selera masing-masing pembaca disini saya hanya ingin membantu sedikit menggambarkan isi cerita dan manfaat dari buku ini.





                                                                KARTIKA SHANIA NINGRUM

      
15 Februari 2016 0 komentar

Khianati aku. By : Fauzul Afa

KHIANATI AKU
Karya : Fauzul Afa

Hati ini terluka, hati ini terluka cinta
Hati ini tak dapat membendung kepedihan lagi
Kau lambungkan semua harapan yang ada
Kau hancurkan semua yang tersisa
            Kini hati ini menangis, menangis mengenang pahit
            Tak ada lagi rasa dan tanpa perasaan
            Kini hati ini terjatuh, terjatuh kedalam pilu
            Titik kesedihanpun tumbuh dalam hatiku

Air mata ini tenggelam kedalam hati yang berdarah
Berdarah dalam luka dan duka yang kau berikan
Rasa ini menghancurkan harapanku
Tak ada sisa dari rasa bahagia, yang ada hanya kepedihan

            Hati ini gugur..
            Gugur bagaikan daun yang tak berguna
            Kau tak mau peduli, tidak sama sekali
            Separah itukah aku?

Kau tinggalkan aku sendiri
Membiarkanku terlupakan dalam kebahagiaan
Seperti debu yg terhempas oleh desiran angin
Tak tentu arah dan akan terjatuh juga ketanah

            Biarkan saksi melihatku menderita
            Biarkan saksi merasakan kesakitanku ini
            Terdiam, terjatuh, dan  tak berdaya
            Saksilah yang tau bahwa hatiku ini sedang pilu, hanya saksi

Wahai engkau yang disana..
Semoga engkau bahagia dengan nya
Semoga engkau gembira dengan nya
Sementara, biarkan aku merana dalam kesedihan

- Sub Puisi Apresiasi sastra jaWaRa.
 
;