18 Februari 2017 0 komentar

PUISI "TANGAN-TANGAN PENUSUK"

To: Banten

TANGAN-TANGAN PENUSUK
(Oleh: Sofa Awaluddin)


Tangan- tangan penusuk
Teguklah air dikandungku
Isilah perutmu…
Rasakan kerongkonganmu berbicara

Tangan –tangan penusuk
Ingatkah otakmu…
Kemilau emas yang dulu indah
Kini kau kubur dengan egoismu

Tangan-tangan penusuk
Jangan…
Kau tegakkan tonggak itu
Tonggak-tonggak yang membuatku murka

Tangan-tangan penusuk
Kepada siapa…
Akan kau berikan diriku
Saudagar serakah atau mereka yang bengis

Tangan-tangan penusuk
Padi itu telah tegak
Menatap langit seolah berkata
Akulah saksi bisu itu




~Komunitas JaWaRa~
4 Januari 2017 0 komentar

PUISI "BERAKHIR SUDAH"

BERAKHIR SUDAH
(Oleh: Fauzul Afa)




Air hujan turun deras menghantam sang bumi
Air matapun turun deras kengarai kepedihan
Perjuanganku, kau jatuhkan tanpa melihat
Kau basmi semua rasa cintaku tanpa sisa

Andai saja kau melihatku disini..
Tertidur dengan harapan yang bisu
Bernaung kedalam kepedihan yang pilu
Terjatuh dan terhempas dalam kekecewaan

Salahkah diriku ini?
Membatinkan rasa yang hancur tak tersisa
Meluapkan semua kedalam kehampaan
Membiarkan semua rasa itu menjadi pilu

            Terlanjur aku mencintaimu
            Terlanjur aku menyayangimu
            Terlanjur aku mengasihimu
            Tapi entah, yang kudapatkan hanya kepedihan

Apakah aku ini benalu dimatamu?
Separah itukah aku?
Kau dorong aku kedalam lubang gelap
Lubang yang terlihat tak mempunyai dasar

            Semua terasa berakhir sudah
            Kenyataan nya, kau tak mau peduli
            Semakin kugengam, semakinku terluka
            Semakin kubertahan, semakinku patah


Lupakan, aku sudah mulai tersadar
Perlahan cinta ini semakin menghilang
Aku tahu, itu membutuhkan waktu yang panjang
Tapi, itu pasti



~Komunitas JaWaRa~
0 komentar

PUISI "BANGKITKU"

BANGKITKU
(Oleh: Fauzul Afa)



Rasa sakit yang terus menghampiri ini
Rasa hancur yang tak pernah lekang ini
Membuatku semakin tersadar..
Ada banyak keindahan yang aku lewatkan disana

Matahari sudah siap menyambutku
Matahari sudah siap menyapaku
Matahari sudah siap menghangatkanku
Keluarlah, wahai perihnya cinta

Dunia berbisik padaku
Entah dalam keperihan, kesedihan, keterpurukan
Dunia berbisik, pandanglah aku
Percayalah padaku, aku akan selalu berada di jiwamu

Airmata yang menetes itu...
Jatuh kerelung hatiku, seakan memberitahuku
Bahwa ia lelah, bosan, jenuh dengan semua perih ini
Bangkitlah, terjanglah dan lumatlah perih itu

Kupejam mataku yang buta cinta
Dimana anak darah menetes darinya, lalu mengalir
Mengalir kengarai kejenuhan, kemudian pergi
Seakan, mataku ingin mengganti nya dengan kebahagiaan

Langit yang cerah dan indah
Pohon-pohon dan rumput yang bergoyang
Kicauan burung yang merdu
Bernyanyi menyambutku dari tenggelam nya kepedihan


Aku pandangi lembaranku yang jatuh
Tak sadar, dilembaran itu masih terdapat banyak warna
Masih banyak yang belumku tulis
Lembaran baruku, akan kuisi dengan tinta kedamaian




~Komunitas JaWaRa~
30 Desember 2016 0 komentar

Puisi "AYAH"


AYAH
 (Oleh: Fauzul Afa)



Ayah..
Betapa mulianya hati mu
Kau korbankan segalanya demi anakmu
Kau banting tulang hanya untuk anakmu

Disetiap tetes keringatmu
Disetiap derai lelah nafasmu
Disetiap doamu yang penuh dengan harapan
Kau melakukan nya demi aku, tanpa pamrih..

Ayah..
Kau hadir disaat aku terjatuh
Nasihatmu bagaikan siraman semangat bagiku
Kau tak pernah bosan mengngingatkan ku

Saat ayah tertidur
Kutemukan seberkah kedamaian disana
Tepatnya di wajahmu yang senja itu
Wajahmu yang mulai kerut, wajah yang selalu kuingat

Ayah..
Kau adalah lelaki berhati maaf

Aku yang selalu menyusahkan, tak tau diri, egois
Masih engkau suguhkan maaf padaku

Anakmu ini selalu saja membuatmu lelah..
Maafkan aku yang hanya bisa meminta uang
Tanpa memikirkan betapa susahnya mecari uang
Tanpa memikirkan keringat yang keluar dari hasil kerjamu

Anakmu ini selalu saja membuatkanmu masalah baru
Tapi, engkau masih bisa sabar
Dengan rasa bangga, kau ucapkan
Dia anaku, anak yang aku sayangi dan kucintai


Ayah..
Kutulis puisi ini karena aku teramat merindukanmu
Hatiku menjerit tersiksa lantaran rindu ini
Puisi ini kutulis dan kuselip sepotong rindu untukmu ayah
5 November 2016 0 komentar

PESTA DEMOKRASI UNSERA

Serang Dalam menyambut pemilihan Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa UNSERA  diadakan debat antar kandidat calon, Kamis (3/11). Dalam debat antar calon tersebut dihadiri oleh kedua calon di nomor urut 1 yaitu Nanang Sumantri (FT) dan M. Rizki Firdaus (FTI), dan di nomor urut 2 dari pasangan Muhronudin  (FE) dan Ali (FT). Dalam acara debat antar calon ada kampanye terlebih dahulu kedua calon mengemukakan visi misi dan program kerja yang akan mereka lakukan jika memenangkan pemilihan.
Debat antar calon dihadiri masing-masing pendukung dari mahasiswa dan mahasiswi Unsera. Antusias mahasiswa/i unsera dalam pemilihan Capresma dan Cawapresma tahun ini meningkat daripada tahun sebelumnya.
Mendapatkan informasi tentang pesta demokrasi ini adapun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya ini jelas ramean sekarang. Jika tahun kemaren itu hanya tidak rame seperti ini ya, jadi, tahun kemaren tuh hanya mungkin ketika debat itu tidak rame kaya seperti ini. Cuma antusias itu emang yang orang-orang yang real ataupun mengikuti organisasi saja mungkin antusiasnya disitu”, kata capresma no urut 1.

Nah, ini untuk melihat kondisi pemilihan tahun ini cukup meriah berbeda dari tahun kemarin, di lihat dari tim masing-masing, dunia maya semacam itu mereka itu ikut berpartisipasi aktif artinya pemilihan tahun ini pemilihan yang luar biasa terlepas dari adanya permasalahan program-program yang sebelumnya. Memang ini loh yang teman-teman harapkan pemilihan yang sesungguhnya, karena melihat sosialisasi. Hari ini teman-teman mulai sadar pentingnya kita berpartisipasi dalam mengambil hak dan kewajiban mahasiswa”. Kata Capresma No urut 2. (Dian)
 
;