15 Februari 2016 0 komentar

Khianati aku. By : Fauzul Afa

KHIANATI AKU
Karya : Fauzul Afa

Hati ini terluka, hati ini terluka cinta
Hati ini tak dapat membendung kepedihan lagi
Kau lambungkan semua harapan yang ada
Kau hancurkan semua yang tersisa
            Kini hati ini menangis, menangis mengenang pahit
            Tak ada lagi rasa dan tanpa perasaan
            Kini hati ini terjatuh, terjatuh kedalam pilu
            Titik kesedihanpun tumbuh dalam hatiku

Air mata ini tenggelam kedalam hati yang berdarah
Berdarah dalam luka dan duka yang kau berikan
Rasa ini menghancurkan harapanku
Tak ada sisa dari rasa bahagia, yang ada hanya kepedihan

            Hati ini gugur..
            Gugur bagaikan daun yang tak berguna
            Kau tak mau peduli, tidak sama sekali
            Separah itukah aku?

Kau tinggalkan aku sendiri
Membiarkanku terlupakan dalam kebahagiaan
Seperti debu yg terhempas oleh desiran angin
Tak tentu arah dan akan terjatuh juga ketanah

            Biarkan saksi melihatku menderita
            Biarkan saksi merasakan kesakitanku ini
            Terdiam, terjatuh, dan  tak berdaya
            Saksilah yang tau bahwa hatiku ini sedang pilu, hanya saksi

Wahai engkau yang disana..
Semoga engkau bahagia dengan nya
Semoga engkau gembira dengan nya
Sementara, biarkan aku merana dalam kesedihan

- Sub Puisi Apresiasi sastra jaWaRa.
0 komentar

RESENSI FILM SOE HOK GIE. DIVISI APRESIASI SASTRA.

PERJUANGAN MAHASISWA PADA JAMAN SOEKARNO DALAM FILM SOE HOK GIE 

Identitas Film
Sutradara         : Riri Riza
Produser          : Mira Lesmana
Penulis            : Riri Riza
Pemeran          : – Nicholas Saputra  – Wulan Guritno    – Indra Birowo
  – Lukman Sardi       – Sita Nursanti       – Thomas Nawilis
  – Jonathan Mulia     – Christian Audy   – Donny Alamsyah
  – Robby Tumewu    – Tutie Kirana       – Gino Korompis
  – Surya Saputra       – Happy Salma
Distributor      : Sinemart Pictures
Durasi             : 147 menit
Jenis Film        : Biografi

Film Biografi ini berlatar di Kota Jakarta dengan pemeran utama Soe Hok Gie yang diperankan oleh Nicholas saputra. Soe Hok Gie dibesarkan di sebuah keluarga keturunan Tionghoa dengan kehidupan yang sederhana. Sejak remaja, Gie sudah gemar membaca buku-buku sastra. Saat SD dan SMP Gie sekolah di Kanisius, lalu setelah lulus ia kuliah di Universitas Indonesia. Masa remaja Gie dijalani di bawah pemerintahan Soekarno yang ditandai adanya konflik antara militer dan PKI. Gie sangat membenci Soekarno karena pemerintahan Soekarno yang diktator dan membuat rakyat Indonesia menderita terutama rakyat miskin yang haknya terinjak-injak. Gie tahu bahwa di pemerintahan Soekarno ini ada ketidakadilan dan juga banyak korupsi yang dilkukan oleh para pejabat di pemerinahan ini. Oleh sebab itu, Gie dan teman – temnnya berusaha untuk menggulingkan pemerintahan Soekarno. Salah satu cara yang dilkukan adalah, Gie sering menyampaikan kritikan-kritikannya lewat media massa dan ia bersama teman-temannya juga melakukan demo. Namun Gie kecewa terhadap teman-temannya karena begitu mereka lulus mereka telah melupakan visi dan misi mereka untuk menggulingkan pemerintahan Soekarno
Gie pernah menyukai seorang perempuan bernama Ira yang kuliah di Universitas yang sama dengannya. Gie juga mempunyai teman kecil yang bernama Tan, namun mereka sempat terpisahkan dan bertemu kembali saat Gie sudah kuliah. Namun pada saat itu Tan telah terlibat dalam PKI yang pada saat pemerintahan Soekarno PKI harus dihancurkan. Gie mendesak Tan untuk bersembunyi namun Tan tidak mau melakukannya. Gie dan teman-teman lainnya sering meluangkan waktu bersama untuk mendaki gunung dan menikmati pemandangan alam disana. Gie meninggal di Gunung Semeru karena menghisap abu asap disana, namun saat Gie meninggalpun Gie tidak berhasil membuat pemerintahan Soekarno tergulingkan.
Di film ini menggambarkan bahwa mahasiswa-mahasiswa di UI termasuk Gie yang sangat menjungjung tinggi HAM di masa Orde Lama yang dipimpin oleh Soekarno dan mereka berjuang untuk mendapatkan kembali hak itu untuk rakyat Indonesia. Di film ini terlihat jelas pemerintahan Soekarno yang berhasil menutupi kesalahan-kesalahan mereka yang telah dilakukan kepada rakyatnya sehingg membuat rakyat menjadi menderita. Politik pada masa Orde Lama juga digambarkan dalam film ini dimana Soekarno ingin memberantas PKI dengan cara membunuh orang-orang yang tergabung dalam PKI termasuk teman kecil Soe Hok Gie yang terbunuh karena merupakan bagian dalam PKI. Kondisi sosial pada masa ini tentu saja kacau karena para demonstran yang melakukan demo untuk mendapatkan kembali hak-hak mereka dan bisa mendaptkan hidup yang lebih baik. Budaya yang ada di masa orde lama yaitu budaya Tionghoa diperbolehkan pada zaman itu, pada masa orde lama ini tidak membedakan etnis dan agama, semua dianggap sama rata.
Dalam film ini terdapat banyak sekali adegan adegan yang membuat penonton tegang, sedih ataaupun merasakan perjuangan mahasiswa pada saat itu, film ini terlihat sekali digarap dengan serius, terlihat dengan masukna penonton kedalam suasana pada saat itu, film ini sangat direkomendasikan untuk semua mahasiswa terutama mahasiswa yang memperjuangkan literasi seperti komunitas JaWaRa.

- APRESIASI SASTRA. 2016
14 Februari 2016 0 komentar

Resensi Film GIE, Oleh Divisi Kajian Film

GIE : Catatan Kritis Mahasiswa
Divisi Kajian Film
Judul Film     : GIE
Sutradara     : Riri riza
Produser       : Mira lesmana
Durasi            : 141 Menit
Jenis Film      : Biografi, Drama
Tahun Terbit: 2005
            GIE, Seorang pemuda Indonesia keturunan Cina, lahir pada 17  Desember 1942  ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik. Sejak masih di bangku sekolah, Gie dikenal sebagai siswa yang kritis, seakan kata-kata dia selalu benar dan orang lain harus setuju akan kata-katanya, bahkan Gie sampai berdebat dengan gurunya. Tapi, dibalik sifatnya yang kritis itu dia juga hobi menonton film, mendaki gunung, membaca dan menulis, dalam setiap tulisan nya Gie berani mengkritisi pemerintah sehingga tulisannya sering dimuat di berbagai surat kabar.
Keberanian Gie dalam mengkritisi pemerintahan Soekarno makin menjadi setelah dia menjadi mahasiswa fakultas sastra di Universitas Indoensia. Di sana pikirannya semakin terasah dan di sana pulalah Gie menemukan sahabat-sahabat yang memiliki minat yang sama sepertinya, gunung dan film. Pada saat itu di UI, bermunculan organisasi-organisasi yang terbentuk karena kepentingan agama dan golongan, seperti PMKRI dan HMI. Gie yang seorang katholik, diajak bergabung ke PMKRI oleh temannya, Jaka. Namun, gie menolak. Dia merasa bahwa politik yang membawa kepentingan agama dan golongan bukanlah jalan untuk membawa perubahan hidup bangsa Indonesia.
Pada bulan Januari 1966 saat itu soekarno mengadakan politik kenaikan harga yang sasarannya jelas yaitu untuk membuat masyarakat panic dan tidak berpikir tentang penumpasan PKI akan tetapi berpikir tentang perutnya. Seluruh  organisasi yang ada di UI bersatu membentuk KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) untuk membubarkan PKI dengan cara berdemo di depan menteri yang pada saat itu banyak melakukan korupsi dimana-mana. Mahasiswa UI saat itu bersatu, mereka berusaha meminta hak-hak rakyat dengan cara berdemo secara besara-besaran. Mahasiswa ini mengajukan tiga tuntutan kepada pemerintah yang dikenal sebai tritura. Tuntutan mahasiswa ini hingga Februari 1966 belum terpenuhi, bahkaan Presiden sendiri menegaskan bahwa tidak akan membubarkan PKI. Barulah pada 11 Maret 1966 Soekarno menyerahakan mandatnya kepada panglima angkatan darat Soeharto. Saat itulah sesungguhnya militer yang sebelumnya bersitegang dengan PKI mendapat kekuasaan. Para anggota PKI pun diburu, ditangkap, disiksa dan dibantai termasuk sahabat Han, sahabat Gie karena di duga dia masih mengikuti ajaran komunis yang menyebabkan dirinya di bunuh mati oleh militer Indonesia.
Setelah dia lulus dari perguruan tinggi, ia bekerja sebagai seorang jurnalis, ia sering mengeluarkan pendapat lewat media massa. Sampai pada suatu hari semua teman-teman yang dulu bersama dengan dia memperjuangkan pendapatnya, kini meninggalkan dia. Gie merasa kesepian dan tertekan atas sikap teman-temannya, akhirnya menuju ke puncak Gunung Semeru. Namun ternyata hari itu adalah hari terakhir dalam hidupnya. Gie meninggal pada bulan Desember tahun 1969 di Gunung Semeru dipangkuan sahabatnya, Herman Lambang.
            Film yang di bintangi oleh Nicholas Saputra ini diangkat dari sebuah catatan Soe Hok Gie, seorang pemuda dari etnis tionghoa yang senang menuliskan keresahan keresahannya dalam sebuah buku catatan selama kurang lebih 13 tahun. Film ini berlatarkan pada masa Orde lama di rumah Gie, Istana Presiden, Jalan Raya, Stasiun Kereta Api, puncak gunung dan Kampus UI (Universitas Indonesia) sebagai pusat kegiatan para Mahasiswa dalam menuntut ilmu. Dan di kampus pun banyak kegiatan yang terjadi dari mulai demo sampai muncul dan memuncaknya konflik. Alur yang digambarkan di film ini adalah maju mundur, terlihat ketika dikisahkan catatan perjalanan hidup Gie dari mulai duduk di bangku sekolah hingga tamat dari perguruan tinggi dan teringat kembali pada masa remaja dan suasana di kampus nya.
            Tokoh Gie yang di perankan Nicholas Saputa ini lebih menonjolkan karakternya yang kritis dan penuh dengan pendirian. Sedangkan pemikiran yang ada pada Ira, Herman dan teman-teman Gie yang lainnya pun sejalan dengan pemikiran nya. Ada kedua sahabat Soek yang berbeda jalan pemikirannya, yaitu Hans dan Jaka. Harapan yang jaka pegang bagus sekali tetapi kurang tepat, karena apa yang di harapkan Jaka tidak sejalan dengan tindakan yang dia tempuh. Begitu pula dengan Hans, Ia ingin sekali mendapatkan perubahan pada dirinya dengan mengikuti organisasi PKI tetapi dia malah menderita yang akhirnya meregang nyawa.

Film ini mengajarkan kita untuk menjadi seseorang yang berani mengmukakan pendapatnya dan dapat mengubah mainset para mahasiswa untuk menjadi mahasiswa yang kritis dan nyata dalam tindakannya. Dan film ini juga sangat bagus untuk orang-orang yang tertarik dengan ilmu politik. Walaupun ketika pertama kali menonton film ini jalan ceritanya sedikit sulit untuk di pahami, tetapi jika kita menonton ulang barulah kita paham jalan ceritanya. Selain itu, audio dalam film ini kurang seimbang ketika monolog Gie kurang jelas terdengar karena latar belakang musiknya yang terlalu keras. Dan juga sebaiknya tidak menyisipkan adegan yang tidak pantas untuk di muat dalam film yang bertemakan tentang perjuangan mahasiswa ini. 
12 Februari 2016 0 komentar

Mengenal dan Mengetahui Lebih Jauh Mengenai Sejarah Banten.

10 Februari 2016 0 komentar
 
;